Minggu, 05 April 2015

Lalu dan Lalu

Bukan penghargaan tapi ini tentang sastraku,aku tak peduli dengan piala itu.
aku terlahir untuk membaca dan kewajibanku menulis menaruh sebuah makna kelak di cicipi cucu-cucuku,yah dari sekian banyak sudah aku lihat,kenapa segitunya.
Memang pengetahuan adalah guru yang hingga kini belum di temukan tunggal di samudera sana,jangan gelisah karena belum temukan jalan pulang,aku masih disini bersamamu awan,aku tinggal di langit dan sering berkunjung di biru lautan kadang aku merasa kesepian dengan musik alam,mungkin bukan sekarang jika tiba saatnya akankah ada yang menemani,maukah kau melihat senja seumur hidupmu bersamaku?
Mimpi-mimpi bersamamu adalah palsu,nyata jikala aku tertidur.
sopan bila rindu dan cinta tak ada petunjuk tentangmu,masih hujan di luar sana,ayo masuk dulu ku buatkan teh.
tisu itu yang jatuh dari tanganmu akan ku simpan di laci kecilku,oh iyah parfum yang pecah di kelas tindak pidana korupsi dan ekonomi,yang temanmu jatuhkan waktu dosen masuk itu juga ku simpan.
masih belum mengantuk,05.48 am.
Fajar baru di hari senin 6 April 2015,stay tune with andaikan ku punya sayap lagu waktu kecil yang bikin tegar waktu aku di kalahkan teman kelas yang selalu juara di pelajaran matematika kelas 2 sd.
oh iyah aku lupa roti buatan mama di tas,bentar yah aku ambil.
ini aku sebut bread green ala mama,ngga tau kenapa aku juga sampe bisa bikin tuh kue.
Mama,aku pulang....
kenalin,nih jesa.
teman baru aku ma.
Mama,ajarin aku sama je bikinin bread green yah?
Mama;iyah boleh.
di sore itu hujan mengguyur,jauh di sebrang waktu aku meluncur dengan sweater merah mellon.
tepatnya di depan kantor gubernur,mobil-mobil terparkir ambruk,mementingkan keperluan negara,lupakah pejabat di dalam negara itu bukan cuman kalian?
terbangun di shubuh sunyi alarm ke surga memanggil.
di jendela pipa langit yang biru,mataku sayup lagi terpesona fatamorgana dunia.
Tuhan aku butuh bantal sebentar dan vas bunga agar ku tenang di 1/2 malam.

Ruma Maida

Pamflet Sejarah Negeriku Yang Pudar

01
Ishak Pahing dalam perjalanannya di pesawat tertembak akibat berondongan peluru yang di muntahkan dari pesawat-pesawat tempur yang mengepung pesawat yang ia dan teman-temannya tumpangi dan akhirnya pun Ishak Pahing tertembak. Inilah pembuka film Ruma Maida yang digarap oleh Teddy Soeriaatmadja dan sebagai penulis naskahnya, Ayu Utami—seorang  novelis yang sempat menggegerkan jagat sastra Indonesia kontemporer melalui Saman
Ruma Maida adalah filem yang mencoba membaca kembali wacana nasionalisme dalam filem—tentu dalam konteks kehadirannya dihubungkan dengan hari Sumpah Pemuda. Sebelum filem ini beredar juga diramaikan oleh kehadiran Garuda di Dadaku dan Merah Putih.
Ruma Maida diproduksi oleh Lamp Pictures dan Karuna Pictures dirilis bertepatan dengan momentum 81 tahun Sumpah Pemuda—dengan menghadirkan berbagai kepingan peristiwa hingga sekarang. Melalui Ruma Maida narasi-narasi besar perjalanan bangsa ini dihadirkan ke penonton. Latar sejarah yang menggelora dan mengharu biru dikaitkan menjadi bangunan keindonesiaan, yang mengkristal menjadi satu kata, Merdeka. Kata merdeka menjadi lokus utama di filem ini meskipun ia berbicara dari generasi yang berbeda. Konteks keindonesiaan yang merdeka terhimpun dari kepingan-kepingan peristiwa yang terpadatkan pada momentum akbar bangsa ini. Sejarah yang di mulai dalam filem bermula dari zaman pergerakan nasional tepatnya peristiwa Sumpah Pemuda, pendudukan balatentara Dai Nippon, Perang revolusi kemerdekaan hingga Peristiwa Mei 1998. Dalam narasi-narasi besar itu Ruma Maida menempati ruang mikrokosmis yang menghubungkan kehidupan anak bangsa. Sekali lagi narasi-narasi besar keindonesiaan terpusat pada sebuah rumah dan rumah inilah yang menulis sejarah pelakunya, tentunya sejarah pelaku-pelaku yang terlibat secara sadar atau tidak telah mengusik diskursus keindonesiaan itu yang belum selesai.
Apa yang terjadi di tahun 1998 oleh pembuat filem ini disamakan dengan peristiwa yang terjadi di zaman pergerakan dan revolusi—dengan cara merelasikannya situasi zaman kolonial di mana kemerdekaan yang hakiki masih jauh dari harapan. Digambarkan Maida, seorang mahasiswa sejarah semester terakhir yang sedang menyiapkan skripsi dan juga melakukan aktifitas sosial dengan melakukan kegiatan pendidikan alternatif untuk anak-anak jalanan di Jakarta. Ia adalah korban kekuasaan; modal dan sistem negara yang tidak berpihak.
02
Ayu Utami selaku penulis skenario menyatakan bahwa filem ini bertujuan untuk meneguhkan kembali makna kebhinneka-an yang hampir saja tergerus oleh pemasungan dari pihak-pihak yang memaksakan etika moral diterapkan di masyarakat Indonesia. Menurut penulis, filem ini ingin mengingatkan bahwa sebagai anak bangsa kita jangan lupa dengan pluralitas bangsa Indonesia. Ayu menjelaskan bahwa dalam filem ini diperlihatkan sketsa pilu warga bangsa yang belum mendapatkan kemerdekaannya meskipun telah merdeka.
Teddy Soeriaatmadja  menghadirkan konsep stilistikanya seperti yang pernah ia buat sebelumnya di filem Ruang. Tentu dalam Ruma Maida ia ingin menghadirkan sejarah dalam imajinasi ruang sebagai pusat narasinya. Ruang, yang direpresentasikan dengan rumah, sebenarnya sangatlah jenial dalam pemilihan bahasa filem untuk membingkai sejarah keindonesian yang sangan panjang. Namun, sutradara sangat jelas terlihat kepayahan untuk meyakinkan penonton tentang sebuah narasi sejarah versinya Ayu, sang penulis. Dalam tulisan Ishak Pahing, Nanni Kudus dan Kolonel Mayurama adalah sosok khayali yang dihadirkan sebagai penyampai risalah keindonesiaan yang dalam bacaan teks tentu memberikan gambaran imajinatif yang memberikan ruang kepada pembaca untuk membangun karakternya sendiri-sendiri—ini adalah hakekatnya saat kita membaca sebuah karya berbasis teks. Itu pula yang dihadapi oleh Teddy dalam menggarap Ruma Maida. Daya imajinasi teks tidak mampu ia kembangkan dalam bahasa filem. Kita tentu mengenal karya seperti Les Misérables-nya Victor Hugo (1862) dihadirkan kembali oleh Bille August. August tanpa tedeng aling menghadirkan sosok Jean Veljean (Liam Neeson) yang sudah menjadi sosok klasik—seorang yang berkarakter keras—menjadi sosok yang tenang dalam filem. Tentu ini menuai banyak kritik, tapi secara kehadirannya dalam filem, August berhasil menjadikan sosok Jean Veljean versi sutradara sendiri.
03

Ruma Maida 
mencoba memberi prespektif sejarah versi sendiri seperti posisi bangsa Belanda, Tionghoa dan Peranakan lainnya dicap tidak nasionalis. Dalam filem ini penulis dan sutradara ingin menggeser postulasi ini yang kebangsaannya dipertanyakan. Dengan sangat mudah kita mengetahui premis film ini yaitu lokus kebhinnekaan adalah milik seluruh komponen bangsa termasuk para peranakan maupun bangsa lain yang memilih hidup untuk Indonesia. Hal ini juga tergambar pada peristiwa Mei 1998 dengan sangat jelas pembelaanRuma Maida terhadap minoritas terutama etnis Tionghoa yang dirugikan dalam peristiwa kelam sebelum kejatuhan rejim Soeharto ini.
Dari pengalaman menonton Ruma Maida, tergambar obsesi penulis yang ingin meluruskan sejarah dalam versinya sendiri yang tentunya tidaklah sesederhana itu. Negara dan bangsa ini berdiri dengan jutaan darah dan pusaran konflik yang tiada henti. Sejak peristiwa berdarah Ken Arok, Majapahit, Mataram, Zaman Kolonial hingga kemerdekaan tidak pernah luput dari tarik ulur kepentingan dengan mengorbankan darah anak-anak bangsa. Pada periode kemerdekaan kita mencatat beberapa persitiwa seperti; pemberontakan PKI 1948, disintegrasi yang terjadi di medio 1950-an (ingat peristiwa PRRI/Permesta, RMS, DI/TII), hingga peristiwa kelabu G 30 S PKI sampai dengan peristiwa mei 1998. Semua catatan perjalanan sejarah bangsa ini selalu kepayahan untuk menegakkan visi keindonesiaan. Begitu juga dengan bagaimana kepayahannya filem ini untuk meyakinkan penonton tentang keindonesiaan itu.
Kembali pada pelurusan sejarah dalam film, Ruma Maida dijadikan pusat gravitasi keindonesiaan dalam satu rumah—dimana sejarah bangsa bertemu meskipun kita tahu sejarah bangsa ini terdiri dari fragmen-fragmen yang satu sama lain tidak melulu saling terhubung. Kontak sejarah yang saling berhubungan hanyalah wacana menuju kemerdekaan itu sendiri, namun untuk kepingan peristiwa sejarah lainnya sangat sulit untuk menghubungkan sebuah peristiwa sejarah yang terangkum padat di sebuah rumah tua.
Bagaikan puzzleRuma Maida menggiring penontonnya untuk cermat menyusun kepingan-kepingan puzzle yang berserakan. Sebuah pilihan yang cukup pintar dalam bahasa filem. Namun, kepingan-kempingan itu terasa menjadi hambar karena kelemahan diberbagai lini seperti pemilihan pemain dan karakter dalam film ini. Para tokoh tidak ubahnya seperti bermain dalam sinetron dengan mengerangkan urat di leher untuk memperlihatkan kemarahan. Benda-benda di dalam rumah hanya diam sebagai benda, ia tidak hadir sebagai metafora dalam filem dalam membangun imajinasi penononton. Susunan puzzle itu pada akhirnya menjadi hancur lebur sebagai sebuah bangunan filem yang seharusnya menarik lalu menjadi opera sabun (sinetron) karena konflik yang dibangun tokon Maida tuntas hanya dengan kemurahan hati seorang pengusaha congkak yang sadar akan keindonesiaan dan pentingnya arti sejarah. Inilah klise yang selalu dibangun dalam cerita-cerita murahan, yang menurut saya tidak sekelas dengan Ayu Utami dengan reputasi penulis handal generasi baru yang mendapatkan berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional.
04
Maida Lilian Manurung (Atiqah Hasiholan) di persepsikan oleh pengarang filem ini sebagai pejuang pendidikan bagi kelas bawah, yakni para anak jalanan. Kita bisa mengira-ngira bahwa Ayu memilih cerita ini tentu terinspirasi dari Butet Manurung—seorang tokoh penting pejuang pendidikan alternatif bagi masyarakat marjinal (orang-orang Kubu/Rimba di Jambi dan anak-anak jalanan di Makassar). Namun, gambaran ketokohan dan pengabdian seorang perempuan muda dalam filem ini seperti hanya menjadi slogan-slogan yang ada dalam surat kabar. Sutradara tidak bisa menemukan bahasa filem yang lebih baik untuk menggambarkan tokoh Butet Manurung, yang pasti tidak akan berteriak-teriak dengan mudahnya saat sekolah alternatifnya digusur. Dalam filem yang tergambar hanya slogan-slogan penindasan yang diartikulasikan dalam bahasa oral dan tubuh Maida.
Di rumah tua itu tokoh Maida bertemu dengan Sakera Motaba (Yama Carlos)—seorang arsitek yang akan merenovasi total rumah ini dengan konsep desain minimalis modern futuristik seperti yang diminta kliennya, Dasaad Muchlisin (Frans Tumbuan). Tokoh Sakera, kalau kita relasikan dengan nama, tentu kita akan tahu dia adalah seorang yang berasal dari Madura. Ini juga yang dicoba digambarkan oleh Ruma Maida tentang konsep pluralisme dalam hubungan cinta. Sakera (yang tentu dalam stereotipe masyarakat Madura adalah beragama Islam) dijalinkan dalam hubungan personal dengan Maida yang keturuna Tionghoa-Batak dan beragama Katolik. Perlawanan stereotipe mencapai puncaknya saat sepasang kekasih ini mengucapkan janji di depan pastor. Sekali lagi, bagi saya ini adalah angan-angan yang bagus, namun tidak begitu cantik dalam bermain bahasa filem. Pertanyaan muncul, kenapa harus menikah di gereja bukan di KUA (Kantor Urusan Agama)? Mungkin sutradara memilih di gereja agar lebih terlihat agung dan estetik. Padahal dalam konteks keindonesiaan dan juga dalil-dalil agama, Sakera bisa saja mengucapkan ijab-kabul di depan seorang Kyai yang di dalam beberapa perspektif Islam, kawin campur pun bisa terjadi. Di sini Ayu dan Teddy terlalu sinis melihat pluralisme di Indonesia. Padahal bisa saja dengan tidak berhadapan secara langsung yang menjadi sangat slogan dan pamflet-pamflet kemarahan.
05
Film Ruma Maida juga menghadirkan tokoh anak-anak sebagai gambaran anak jalanan di Jakarta. Di sini juga ada catatan yang perlu kita lihat yaitu peran anak-anak pada film hanya menjadi tempelan. Pelajaran musik, toh hanya sebagai pintu masuk terhadap sejarah Ishak Pahing. Padahal, Teddy sebenarnya telah mulai memainkan tanda dengan menghadirkan biola di tengah anak-anak. Namun, sekali lagi sutradara gagal menjadikan tanda ini sebagai sesuatu yang sangat penting dalam filem. Ketika biola anak-anak itu hancur karena peristiwa tragedi 1998, Maida berusaha mencari gantinya. Ia menemukan gantinya dari bekas calon suami ibunya. Maida memberikan biola itu kepada anak jalanan itu saat ia menggali gorong-gorong di jalanan. Biola menjadi hambar, hilang tanpa makna bagi filem dan relasinya dengan sang anak. Sayang sekali.
Tokoh penting dalam film ini juga Ishak Pahing—seorang indo yang ayahnya bernama Hans Schmutzer dengan ibu sunda. Ayah Ishak ingin ia menjadi penerbang, namun ia lebih menyukai musik terutama biola. Digambarkan dalam filem, keinginan tersebut semakin mantap ketika Ishak Pahing bertemu Bung Karno dan melihat Wage Rudolf Supratman memainkan lagu kebangsaan. Saat itu ia berjumpa untuk pertama kalinya dengan Nanni Kudus yang kelak menjadi istrinya. Oleh Bung Karno anak Ishak dan Nanni diberi nama Fajar Putra.
RUMA-MAIDA-daLam1
Tokoh lain adalah Kolonel Maruyama—seorang officer Jepang yang menyamar sebagai fotografer sebelum balatentara Jepang masuk ke Indonesia. Sang kolonel jatuh hati kepada Nanni Kudus yang membuat gusar Ishak Pahing. Ada hal yang perlu dicatat di sini, konflik Ishak Pahing dan Kolonel Maruyama adalah konflik pribadi yang seharusnya bisa dikemas lebih baik. Tidak dengan cara hitam-putih. Tokoh jahat yang diperankan Maruyama sama persis dengan yang kita selalu kenal yaitu bengisnya penjajah. Padahal dalam konteks cinta, seharusnya bisa lebih halus dan pasti bisa ditemukan dalam bahasa filem. Karena konflik cinta tidak ada hubungannya dengan pilihan politik seorang Maruyama. Toh, dalam filem ini digambarkan bahwa akhirnya sang kolonel memilih tetap tinggal di Indonesia dan merawat anak dari Ishak Pahing setelah meninggalnya Nanni Kudus dalam kerusuhan paska kemerdekaan. Sutradara masih melihat kejahatan sebagai sesuatu yang jahat. Padahal dalam persoalan perasaan, tentu kejahatan bisa sangat berbeda. Cinta itu adalah sebuah ketulusan dan itulah yang dibuktikan oleh rangkaian cerita Ayu Utami dalam Ruma Maidasaat sang kolonel memutuskan mengasingkan diri.
Pembingkaian kejahatan dengan cara hitam-putih ini juga terjadi pada adegan kerusuhan 1998. Dalam Ruma Maida jelas posisi para perusuh digambarkan secara beringas dan tak kenal ampun. Penggambaran yang sama juga berlaku bagi orang pribumi yang di filem ini dipersepsikan sebagai biang keladi atas huru-hara 1998. Hal ini dipertegas dalam sebuah gambar toko yang bertuliskan; milik pribumi, Muslim. Ayu dan Teddy benar-benar membuat sebuah slogan yang menurut kami sangat gampang dan bersifat pamflet. Ada banyak perangkat peristiwa yang mengikuti tragedi berdarah itu. Bagi penulis, bukan berarti mengabaikan korban-korban warga keturunan pada peristiwa itu. Namun, slogan yang menjustifikasikan bahwa orang-orang pribumi adalah “biang” merupakan kesalahan fatal dalam filem ini. Penonton tidak lagi diajak untuk berpikir objektif terhadap peristiwa-peristiwa yang memojokan masyarakat keturunan itu. Bahwa ada sistem yang salah dalam membangun bangsa ini pada masa Orde Baru.
RUMA-MAIDA-daLam2
Hasil tamasya sejarahnya menghantarkan Maida dan Sakera ke Dasaad Mukhlisin dalam konflik penguasaan rumah tua yang digunakan Maida. Adegan ala sinetron terjadi saat Maida dan Sakera diusir oleh Dasaad Muchlisin karena meminta mengurungkan niatnya untuk meruntuhkan rumah itu. Diceritakan bahwa rumah tua itu adalah warisan sah Ishak Pahing yang disebutkan sebagai ayah biologis Dasaad Muchlisin. Tokoh pengusaha ini digambarkan sebagai orang yang gila pada sesuatu yang baru dan benci sejarah. Ia adalah potret masyarakat kontemporer yang ahistoris. Namun, bagaimana mungkin sebuah peristiwa yang begitu besar dan merubah perilaku seseorang dapat menjadi sangat “mellow” setelah ia datang ke rumah orang tuanya sendiri? Sekali lagi, terlalu mudah untuk filem yang dari awal berjibaku dengan soal-soal kebangsaan dalam bingkaian sejarah arus besar negara ini. Apalagi  diakhir cerita Dasaad Muchlisin sadar dan berubah pikiran. Filem ditutup dengan penghibahan rumah kepada Maida dengan disingkapnya tirai sekolah Ruma Maida oleh Pak Dasaad Muchlisin. Sama persis seperti filem-filem propaganda Orde Baru tentang kebaikan dan budi pekerti.
RUMA-MAIDA-daLam3
Sejarah dalam Ruma Maida menjadi hambar. Kehadiran tokoh-tokoh sekelas Soekarno, Hatta, Wage Rudolf Supratman dan lain-lain tidak banyak membantu untuk membuat filem ini penting untuk membaca sejarah dalam perspektif kebudayaan. Kerumitan sejarah ternyata hanya selesai dengan penghibahan rumah Dasaad Muchlisin kepada Maida dan anak-anak asuhnya. Filem Ruma Maida ternyata hanya diselesaikan oleh pertobatan Sang Pengusaha congkak saja.
RUMA-MAIDA-daLam4

Harta karun masa kecil

Salah satu kenangan masa kecil saya,lagu yang saya dengar pada tahun milenium itu,merupakan harta karun di kala dewasa,Madre.
Salah satu penyanyi cilik lelaki hasil bimbingan alm Elfa Secioria adalah Kenny. Lagu Cinta untuk Mama sebagai debutnya,muncul pada 1999.
Lagu yang sederhana dengan makna luar biasa.
Akhirnya ku temukan harta kecilku sejak 15 tahun lalu hilang di telan zaman.

Sabtu, 04 April 2015

Sherina-Andaikan aku punya sayap

 C
Satu-satu
F
Daun-daun
C        G
Berguguran
           Am       G
Tinggalkan tangkainya

C
Satu-satu
F
Burung kecil
C        G
Beterbangan
           Am       G
Tinggalkan sarangnya

  F     G        C
Jauh, jauh, tinggi
Dm     F    G     C
ke langit yang biru

      C    G          Am
Andaikan aku punya sayap
    Em            F
Ku kan terbang jauh
   Dm         F    G
Mengelilingi angkasa

       C     G         Am
Kan ku ajak ayah bunda ku
    Em          F
Terbang bersama ku
  Dm         F   G    C
Melihat indahnya dunia 

Kenny - Lagu Cinta Untuk Mama



 [INTRO]
D Em Bm A
G F#m Bm A


 D                       Em
Apa yang kuberikan untuk mama
      Bb        D
Untuk mama tersayang
    D                   Em
Tak kumiliki sesuatu berharga
      Bb         D
Untuk mama tercinta

Reff :
      G        F#m      Bm
Hanya ini kunyanyikan 
     Em          A            Am     D
Senandung dari hatiku untuk mama
        G              F#m     Bm
Hanya sebuah lagu sederhana
     Em        A     D
Lagu cintaku untuk mama


G F#m Bm Em A Am D
D G#m C#m F#m Gm E A

   D                         Em
Walau tak dapat selalu ku ungkapkan 
        Bb         D
Kata cintaku 'tuk mama
  D                       Em
Namun dengarlah hatiku berkata
          Bb             D
Sungguh kusayang padamu mama

Back to Ref

Jumat, 03 April 2015

Surat kecil dari iblis yang jatuh ke bumi

Dark in the world,ketika terang menyilaukan mata di persimpangan antara bumi dan bulan .
berkibarlah bendera-bendera neraca dunia kembali di perhitungkan ilmu di artikan sebagai penjelajahan umat manusia di perpustakaan waktu,warisan untuk anak cucu di penghujung.
Masihkah mereka bertanya?
jawabannya telah di tulis namun tak selamanya di baca secara dekat oleh anak adam dan hawa.
sudah sobek dan terlipat tak keruan kuning-kekuningan terkena siraman teh tua.
Tak kenal di kau tertidur lelap di awan virga,suara indah belaian surga firdaus mati muda baik buruk tak tentu.
Hidup banyak pilihan setan dan malaikat beradu panco kalahkan pertempuran real mistic bukan dia atau mereka yang menang di alam ini siapa nama ibumu di dalam doa yang kau panjatkan,begitu juga ayah di hari lalu sebagai penjahat kelas ekstrem pensiun dini agar semua terkendali,sungai yang mengalir di derasnya hujan pintu maaf di buka lebar kala hari itu datang siapa yang terlambat itu angin lalu hilang dalam dingin.
mengeluh di rentetan tembakan-tembakan modern kala vintage masih berjaya dan aku masih klasik dengan keroncong sore itu.
Bunga yang layu tak tersiram,air sebagai sumber kehidupan bagi seluruh umat.
cinta yang menguatkan hati,raga dan jiwa mereka bersumpah antara satu tulang rusuk,keabadian itu ada,bukankah masih terukir namun cuma kita yang telah tiada,tontonan akan kekuatan,kesabaran,kejujuran tangan yang ku genggam hening di shubuh yang merah,dan jendela kamarku yang tersudut itu berhiaskan bintang,terima kasih bukan hanya di mulut atau kata baku sebagai persembahan atas perayaan pesta megah,wonderland bergema melepas durasi seperti seks yang menumbuhkan atau malah mematikan lanjutan cerita esok siang,telanjang tak bernoda itukah yang mereka rasakan,culture masih berdiri lupa suara seruan alam,andaikan kalian ada disisi ku hapus semua derita air mata menoreh di cerita ini,scary in your heart berteriaklah selagi semesta kau pandang langit tak buta untuk melihat kesaksian ini,jelas-jelas kau pura-pura agar semua ini biasa saja,ketakutan jadi inisial dan kebohongan jadi adegan dalam peran,bumi itu bulat yang di rasakan history,alasan agar menjadi orang terdepan kajian sainsmu lebih cenderung false,waktu tak menunggu jawaban itu kaulah yang nyasar tak gunakan peta,pisau ini tajam setajam lidah,binatang dan manusia beda tipis,kehausan merenggut keuntungan,anak-anakmu kau terlantarkan dengan kemewahan mana mungkin ini di biarkan kegelisahan di kolong jembatan masih ku lihat,kantong tengah di pertanyakan pikiran memaki diri terdiamlah di kumuhnya  genangain air keruh yang telah hilang di makan anjing jalanan,jauh kau lebih jauh maka di jauhi,lelah kau terjatuh di ributnya suasana peradaban terbaring di pelukan sang kakak peempuan,maaf aku tak mendengarmu saudaraku.

Kain-Kain Penutup

Ku selamatkan kau dalam dinginnya dunia
ku benamkan kau diantara tubuhku
masih terbayang apa yang ku lakukan
menyesal dan dosa sudah di lewatkan

Terkejut dan tak kuasa
semalam aku entah dimana
sebujur keringat membasahi pipiku
baru kusadari hari dan tanggal

malam yang singkat telah habis
beiring dengan langkah kakiku
mencari segumpal penutup
untuk luka yang tak pernah usai