Kamis, 07 Januari 2016

Episod 2016

Jumat
01 January
00.05 WITA

Entah kenapa?
Mungkin aku makhluk yang paling aneh sedunia,yang nggak suka sama yang namanya keramaian.
Orang pada pusing mondar-mandi sana sini aku malah berdiam diri di kamar yang baru aku tempatin.
Suasananya pun berbeda ngga kayak kamar aku yang dulu,yang masih classic dengan design berbeda dari biasanya,suka aja sama hal-hal yang menurut aku mengandung histori dalam hidup.
Kenalin aku pecandu ketinggian dari langit banda neira yang kerjanya suka menulis kejadian yang terjadi begitu saja dalam hidup sebagai kenangan buat masa depan yang menanti di ujung jalan kota kuno peradaban dunia kala lalu.
Itulah dia namanya banda neira,kota kecil dengan sejuta cerita.
Hari ini tepatnya malam pergantian tahun di 2016,aku masih duduk dengan manis bersama laptop kesayangan menulis cerita ini begitulah jari yang ku kagumi,milikmu ciptaan yang tak setara dengan apapun di muka bumi ini tak sempurna tapi melengkapi bagaikan rasi bintang di langit malam hari.
Dunia boleh punya sejarah yang begitu hebat begitu pula diriku dengan sejarah yang aku ciptakan dengan jiwa,mata yang sering bercerita bagaimana indahnya dunia bagaikan kamera yang sempurna menjepret tiap ia berkedip,mungkin malam ini para awan mulai marah akibat ulah manusia yang terlalu pesta pora dan terbaik menurut apa yang dia lakukan tak banyak namun setengah penduduk dunia sekarang sedang bersuka cita menyambut kedatangan tahun yang baru,namanya juga manusia berbeda presepsi dan tujuan yang di gariskan oleh takdirnya.
Sudahlah lupakan saja karena aku generasi yang mencintai bumi ini dengan kesempurnaan ciptaan tuhan yang ia miliki,aku akan menjaganya,bukan malah ngerusak originalnya semua ini.
Belum sampai disini,satu hari ini aku sangat lelah banget,lelah dengan kamar baru yang seluas dan selebar ini,bulan temani aku dan bintang berceritalah tentang sunyimu akan aku dengarkan dalam dingin ini.
Siang uda dengar ributnya para tukang merenovasi rumah begitupun malam suara kembang api yang tak kunjung padam malah semakin memborbardir seisi bumi seperti nuklir masih terjadi bagaiman bisa kau tertidur dalam ributnya mode yang di pakai manusia lainnya,okelah jangan egois tapi kadang mereka berlebihan aku pikir.



Puisi-Puisi

Author: Pecandu Ketinggian


Hujan malam ini



Masih sendiri
Dengarkan lagu romantis
Berharap akan temukan seorang gadis
Sepertinya,yang terjebak hujan dengan payung biru
Jemari ini masih kaku
Menulis puisi tentangmu
Yang tak ku ketahui
Jalan begitu panjang ketika detik menentang jantung
Kertas berisi tinta warnai garis kosong ini
Mungkin benar kata mereka
Cinta butuh pengorbanan,tanpa itu takkan ada artinya
Berjalanlah di malam ini
Temukan hampa jalanan yang basah
















Kita


Cinta kita sudah terikat erat
Seperti romeo dan juliet
Namun satu yang memisahkan kita

Dia tak mau
Aku juga tak mau
Sejujurnya tuhan kita satu
Tapi Cuma tangan yang memisahkan kita

Terhanyut dalam mimpi
Tak mungkin aku mengiktuti
Menolaknya adalah jalan terbaik
Bukan cinta yang tlah habis
Namun satu yang membuat kamu menangis
Kita….
















Pegang tanganku

Lebih dari dirimu
Kurang dari diriku
Sejuta hal yang indah
Tlah kita lalui sama-sama

Setelang kau terbang tinggi
Meninggalkan aku dan cinta kita
Tak mampu menahan perih yang tajam
Kau tlah pergi selamanya dan aku menyesali

Aku bermimpi
Bertemu denganmu
Dan ku peluk erat dirimu tak mau lepaskan
Tapi saat kau memandangku

Jangan lagi
Ku tak mau ini terjadi
Pegang tanganku
Aku tak ingin
Kau pergi lagi











Telah Habis

Seiring lonceng berbunyi
Aku bangun pagi
Langsung mandi dan gosok gigi

Kadang juga tak pernah
Bergegas setelah semua selesai
Jangan lupa kamar di kunci
Lagi-lagi lari pagi
Biar ngga ketinggalan angkot VIP
Sampai kampus langsung nyebrang
Sambil bakar rokok surya sebatang
Pas tiba depan kelas taunya dosen uda pulang.
Jangan telat lagi yah…


















Gelap Gulita Kota

­­­­­­Kelap-kelip lampu jalan
Mewarnai malam hari
Udara yang cukup dingin
Banyak anak kecil berkeliaran

Di sudut-sudut kota
Terhias dengan dosa
Entah mengapa?
Banyak godaan yang di terpa

Tiba di lampu merah
Ada anak kecil jualan koran
Ku lihat wajah yang pasrah
Keluar masuk jalanan

Berharap temukan sesuatu
Agar dapat mengalas perutnya
Dingin dan panas adalah hal yang biasa













Ricuhnya dunia ini


Bising-bising tak pernah berhenti
Ledakan-ledakan selalu terjadi
Teriakan-teriakan yang bergema
Tangisan-tangisan yang berbunga

Kini aku tersenyum
Tak bisa ku menangis depan umum
Melihat semua yang telah hancur
Hatiku tegar namun air mata terus meluncur

Sebab-sebab orang tak bermoral
Yang membuat dosa bukan beramal
Hembusan ketakutan dalam duka ini
Tak kunjung reda untuk berdamai























Tak Sanggup

Jalanan hidup yang semakin berdebu
Banyak canda tawa yang menunggu
Terlebih seperti mereka yang duduk di situ
Sedang menikmati dunia tertekan waktu

Harapan demi harapan
Mereka selalu inginkan
Tapi tak ada yang peduli
Hanya orang berbaik hati
Selalu menolong dan selalu mebagi rezeki

Wahai orang-orang di luar sana
Apakah kalian tak punya nurani
Tak banyak diantara mereka
Sedang menanti pertolongan kami















Suara Pagi

Embun-embun mulai bertebaran
Cakrawala pun perlahan semkain terang
Terlihat basah dan sejuk permukaan bumi
Hampa dan kosong tanpa suara

Terlelap dalam tidur
Matahari mengikuti tugasnya
Dengan percikan burung-burung
Menghiasi nada dengan indah

Awan di langit semakin berbentuk
Sangat indah pagi ini kurasakan
Dalam binar alami kecantikan alam
Indonesiaku sungguh tak tertandingi


















Kain-Kain Penutup


Ku selamatkan kau dalam dinginnya dunia
Ku benamkan kau diantara tubuhku
Masih terbayang apa yang kulakukan
Menyesal dan dosa sudah di lewatkan

Terkejut dan tak kuasa
Semalam aku entah dimana
Sekujur keringat membahasi pipiku
Baru kusadari hari dan tanggal

Malam yang singkat telah habis
Seiring dengan langkah kakiku
Mencari senggumpal penutup
Untuk luka yang tak pernah usai







































Melihat ke timur

Melihat ke timur
From: Najwa Shihab


Di timur ada matahari
Di timur pagi lebih dulu di mulai
Fajar merekah cahaya yang memerah dan lagu-lagu dari pantai sabana dan sawah-sawah
Timur ialah dayung sampan dan kebun pala harum cengkeh dan cendana timbunan emas dan tembaga
Tapi timur menderita sejak lama oleh pengakuan dan penyangkalan oleh penyatuan dan penghisapan
Jika memang ada timur dalam Indonesia
Bagaimana agar mereka merasa tak sia-sia
Melihat ke timur juga melihat ke masa depan
Di timur ada eksotisme yang mempesona
Ada juga kegelisahan yang membahana
Aroma rempah yang mengundang kolonialisme
Derita panjang yang berujung nasionalisme
Lama dilupakan dalam pembangunan di panggang api pertikaian dan perseteruan
Timur bukan tanah yang di janjikan
Timur adalah tanah yang di beri janji dan harapan yang tak pasti
Mereka tak banyak meminta hanya keadilan sebagaimana mestinya
Sebab Indonesia adalah barat,tengah dan timur tak boleh ada bagian yang jatuh dan tersungkur
Jika di timur ada yang terluka di barat juga harus merasa duka
Jika yang tergores ada padamu yang mengerang haruslah suaraku
Itulah persatuan bukan penderitaan berembel-embel persatuan
Timur adalah kita yang terjaga lebih dulu
Timur adalah Indonesia yang tak sabar menunggu


Jumat, 08 Mei 2015

Sejarah Musik keroncong


Dari sejarah perkembangannya, musik ini diperkirakan berasal dari Portugis yang dibawa ke Indonesia sekitar abad ke-16. Ketika itu, para pedagang Portugis, terutama kaum peranakan dan budak, memperkenalkansajian musik dengan permainan alat musik seperti ukulele, gitar, dan cello tanpa penyanyi. Dalam perkembangannya, musik ini mengalami pengaruh dari musik-musik daerah di Jawa seperti Jakarta, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Pada saat itu pula, sajian musik ini tidak lagi terbatas pada permainan alat musiknya tetapi juga disertai dengan nyanyian oleh seorang biduan.
Musik inipun semakin diterima masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa yang ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok musik keroncong di berbagai daerah di Jawa. Bahkan, musik ini sering dimainkan di pinggir-pinggir jalan di malam hari. Secara umum, dalam permainan musik keroncong, harmoni musiknya sangat terbatas. Demikian pula dengan improvisasinyayang sangat dibatasi. Lagu-lagu umumnya memiliki bentuk  dan susunan yang sama. Syair-syairnya terdiri dari beberapa kalimat  (umumnya 7 kalimat) yang diselingi dengan permainan alat musik. Instrumen yang dipakai yaitu gitar melodi, bass, cello, ukulele, cak, biola, dan flute. Beberapa musisi keroncong Indonesia yaitu Gesang, Mus Mulyadi, Kelly Puspito, Hardiman, Sunarno, dan Mardjo Kahar.
          Musik dan lagu dalam sajian kroncong, banyak cengkok dan cenderung melambat dari ketukan yang asli. Keterlambatan dalam ketukan memang sengaja dilakukan karena untuk memperindah cengkok itu sendiri. Improvisasi dan ornamentasi dapat dilakukan dengan sangat bebas, asal masih dalam harmonisasi kroncong. Gaya vokal kroncong dapat mem-pengaruhi durasi berbagai frase, tergantung cara ‘ekspresi ber-lebihan’ atau vibrato. Lagu kroncong khas Indonesia (kroncong, langgam, stambul, langgam Jawa). Istilah kroncong dibawa orang Portugis ke Asia Tenggara sekitar abad 16, kemudian terdapat berbagai teori bahwa istilah tersebut dari unsur onomatopoetic, yaitu musik berbunyi seperti ‘crong-crong’ dan sampai sekarang dikenal sebagai musik kroncong. Struktur harmoni dan melodi keroncong kelihatan berasal dari music Barat, bahkan musik rakyat Portugis paling berperan. 
         
         Musik dengan kesan melankolis biasanya dipentaskan dengan dua jenis gitar (viola) dari Spanyol dan guitara dari Portugis. Jika viola memainkan melodinya, maka guitar memainkan akor-akor tonika-dominan-tonikadominan ….. secara terus menerus, subdominant dibunyikan hanya pada saat tertentu. Prinsip demikian menonjol pada kroncong, selain itu, gaya vokal diwarnai dengan vibrato yang keras (dianggap sebagai kuatnya ekspresi emosi). Standar alat musik kroncong antara lain: ukulele, banjo, gitar melodi, cello (dimainkan seperti gendang), kontra bas, biola serta flute. Secara formal kroncong asli berdasarkan suatu kerangka dengan 28 birama, dibagi masing-masing frase empat birama. Langgam kroncong kebanyakan dibagi empat frase, masingmasing dengan 8 birama (biasanya tanda birama 4/4) sesuai dengan prinsip langgam. Tokoh musik kroncong antara lain: Gesang, Kusbini, Anjarany dan lain-lain. Cara permainan ukulele dan banjo disebut onomatopoetic ‘cuk’ dan ‘cak’. Teknik permainan kurang lebih mirip ‘beat’ – ‘off-beat’. Lagu keroncong yang terkenal antara lain: Kr. Tanah Airku (Kelly Puspita), Lg. Bengawan Solo (Gesang), Stb. Baju Biru (Hardiman).
 Akulturasi Beragam Budaya


Seni Musik merupakan salah satu bentuk kesenian yang hampir dimiliki oleh setiap kebudayaan di dunia. Dengan beragam bentuk dan kekhasannya menjadikan musik sebagai identitas bagi suatu kebudayaan. Corak musik yang dimiliki oleh suatu kebudayaan tentunya berbeda dengan musik yang dimiliki kebudayaan lain. Apakah itu dari segi alat musik ataupun irama langgam lagu yang dimainkan. Pada masa sekarang musik telah menjadi bahasa yang mendunia (universal). Beberapa orang sangat menikmati alunan musik dan lagu dari suatu daerah tertentu, walaupun mereka tidak dapat memahami bahasa yang digunakan oleh si penyanyi.
Indonesia memiliki kekayaan dalam segi suku dan budaya. Dari keragaman budaya ini, patut kiranya kita ambil contoh musik sebagai salah satu bentuk dari keragaman budaya. Tentunya yang kami maksudkan disini ialah musik etnik bukan musik pop. Dalam hal ini kami akan mengambil contoh yang lebih kecil yaitu musik keroncong. Musik ini sangatlah unik karena tidak mencerminkan budaya dari salah satu daerah di Indonesia. Melainkan sebagai bukti dari percampuran dari beberapa budaya yang kemudian melahirkan musik yang khas Indonesia.
Lazimnya di Indonesia, sejarah selalu menuai perdebatan, begitu pulalah kiranya dengan Sejarah Musik Keroncong di Indonesia. Dalam tulisan ini akan dikemukakan salah satu versi dari sejarah kelahiran musik Keroncong. Di akhir tulisan akan coba kami bahas perihal Musik Keroncong di Kota Sawahlunto Sumatera Barat.

Musik Tuan & Para Budak
Portugis merupakan salah satu dari negara-negara Eropa yang merintis perjalanan ke Timur. Pada tahun 1512 di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque Bangsa Portugis mulai menginjakkan kakinya di nusantara. Tujuannya ialah Sumber Daya Alam yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang di Eropa ketika itu, yakni rempah-rempah. Alfonso mengomandani beberapa orang pelaut dan para budak. Para budak di dapat dari daerah kekuasaan Portugis di India yakni Gowa, Malabar, dan Benggali.
Setelah kejatuhan Malaka ke tangan Portugis maka berdiamlah di sana Bangsa Portugis beserta para budaknya tersebut. Para budak tersebut tidak hanya berasal dari India saja, karena semenjak kedatangan Portugis ke Ambon mereka juga membawa budak dari sana. Di Ambo-Maluku, Portugis sempat mengobarkan perang dengan Kerajaan Ternate dan Tidore. Hasil dari peperangan tersebut ialah Portugis terusir dari Maluku.
Malaka yang dikuasai Portugis menjadi benteng utama dalam menghadapi Kaum Moor yang juga terdapat di kepulauan ini. Selain untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah tentunya. Bandar terbesar di Nusantara ini jatuh ke tangan  Portugis pada tahun 1511, setahun lebih awal dari kedatangan mereka ke Indonesia. Di Malaka Portugis sempat membina kehidupan, beberapa peninggalan Bangsa Portugis masih dapat kita saksikan di kota itu hingga kini. Kemungkinan di Malaka inilah seni tradisional rakyat Portugis yang bernama fado tersebar kepada para budak.
Fado
Fado merupakan seni tradisional rakyat Portugis. Akar dari kata Fado merujuk ke bahasa Latin: fatum, dapat kita padankan dengan kata fate dalam Bahasa Inggris yang artinya ialah nasib. Karakteristik musik ini ialah irama dan syairnya yang sentimental-melankolis. Menceritakan mengenai lautan, kehidupan masyarakat miskin, ataupun persahabatan. Sebagian ahli berpendapat bahwa musik ini memiliki akar pada peradaban Bangsa Moor di Semenanjung Iberia pada masa silam.
Keadaan yang jauh dari kampung halaman bagi pelaut Portugis dan nasib sebagai budak yang ditahan oleh bangsa asing di negeri asing oleh para budak, telah membuka dan berkembangnya masuknya musik fado yang sentimental-melankolis. Pada perkembangannya musik ini tidak hanya dimainkan oleh Bangsa Portugis akan tetapi juga oleh para budak mereka dari Benggali, Malabar, Goa dan Maluku.
Pada tahun 1648 Belanda merebut Malaka dari Portugis. Banyak tawanan perang yang ditawan beserta para budak mereka dibawa ke Batavia yang pada masa itu merupakan pusat kekuasaan Belanda di Asia Tenggara. Para tawanan ini kemudian ditempatkan oleh Belanda pada suatu kawasan yang bernama Tanah Serani yang kelak bernama Kampung Tugu. Daerah ini berada di tepi laut, udaranya panas, dan sangat jarang ditemukan air asin. Kalaupun ada sumur, kebanyakan airnya asin pula.
Pada tahun 1661 para budak di Tanah Serani dibebaskan oleh Belanda dengan syarat mereka harus berpindah keyakinan dari Katholik yang merupakan agama resmi Bangsa Portugis ke Protestan yang menjadi agama resmi Bangsa Belanda. Di kampung baru mereka, para mantan tawanan perang dan budak Portugis ini menggeluti usaha di bidang pertanian, berburu, dan mencari ikan. Dalam waktu senggang, mereka sering teringat lagi akan nasib dan kampung halaman nun jauh di mata. Lantunan musik fado nan melankolis yang pernah mereka nyanyikan sewaktu di Malaka belumlah hilang dari ingatan. Mereka masih memiliki kepandaian bermusik, karena musik merupakan curahan jiwa, bentuk ekspresi diri akan kehidupan yang mereka jalani. Banyak penyair-nyair zaman lampau maupun zaman sekarang menciptakan musik dengan mengambil insipirasi dari realitas kehidupan yang mereka jalani.
Maka mulailah kembali mereka melantunkan musik fado yang telah menjadi identitas mereka kaum peranakan. Dengan menggunakan alat sederhana seperti rajao, biola, gitar, rebana, cello, dua jenis ukulele yakni cak dan cuk, dan seruling. Musik ini rupanya disenangi oleh banyak orang dan akhirnya berkembang.
Fado, Moresco, & Cafrinho
Terdapat suatu keanehan yang kami temui dalam mempelajari sejarah musik Keroncong, yakni ditemukannya dua jenis seni musik yang sama-sama berasal dari Portugis yang pertama iala fado, seperti yang kita jelaskan di atas dimana musik fado merupakan suatu seni musik yang berasal dari Bangsa Portugis yang memiliki karakteristik sentimental-melangkolis. Dimana syair-syair dari lagu ini menceritakan mengenai lautan, kehidupan masyarakat miskin, dan persahabatan. Atau pendek kata menceritakan mengenai parasaian hidup.
Sedangkan moresco merupakan suatu seni musik yang diiringi tarian, berasal dari Kejayaan Peradaban Islam di Andalusia. Seni ini juga terdapat di Portugis, karena beberapa Bangsa Moro berkulit hitam yang berasal dari Pantai Utara Afrika masih menetap di negara tersebut. Selain moresco juga dikenal morisca yakni salah satu jenis gitar yang biasa digunakan oleh Bangsa Moor. Yang mana gitar ini berbentuk oval dan memiliki banyak lubang. Hal ini dikarenakan gitar yang mereka pakai merupakan perkembangan dari alat musik sittar yang biasa dipakai oleh Bangsa Arab.
Cavaquinho
Moresco sendiri merupakan seni musik yang mengiri tarian anggar antara hulubalang Muslim dan Kristen. Pada permulaannya, moresco merupakan seni musik dan tari yang mengisahkan kisah-kisah Perang Salib antara umat Muslim dan Kristen dalam kebudayaan Bangsa Moor. Moresco adaah seni yang bernafaskan Islam sedangkan seni non-Islamik disebut dengan Cafrinho yang berasal dari kata kafir yakni non-Islam. Istilah Cafrinho digunakan untuk menamakan kaum heathen atau kaum creolist Portugis di Goa-India.
Sedangkan dalam perkembangan musik keroncong disebutkan bahwa moresco merupakan bentuk awal dari perkembangan musik ini. Hal ini mungkin saja karena pada rentang waktu 1891-1903 di Surabaya yang merupakan kota pelabuhan terbesar di Hindia Belanda masa itu berdiri sebuah grup keroncong yang bernama KOMEDI STAMBOEL. Grup ini merupakan grup pertunjukan bergaya Istanbul, mereka mengadakan pertunjukan dengan cara berkeliling Hindia Belanda, Singapura, dan Malaysia. Pada umumnya pertunjukan mereka mengisahkan Hikayat 1001 Malam, Opera Eropa maupun cerita rakyat, serta hikayat-hikayat dari Timur Tengah, Persia, atapun India. Pada masa inilah dikenal musik keroncong dengan Stambul I, II, dan III.

Moresco yang bernafaskan keislaman lazimnya dinyanyikan vokalis perempuan dengan nasal voice, karena diharamkan bagi mereka menyanyi dengan membuka mulut di hadapan publik. Nasal voice tidak lazim bagi vokalis Portugis, sehingga mereka menggantikannya dengan suara falsetto yang hanya cocok untuk suara laki-laki namun tidak untuk suara perempuan. Akibatnya vokalis perempuan terdengar berteriak bukan lagi bernyanyi, seperti halnya suara para vokalis perempuan dalam menyanyikan lagu keroncong pada tahun 1920-an di Indonesia. Ternyata kasus yang sama terjadi juga pada fado Portugis yang berasal dari Moresco, seperti lagu Folgadinho berikut ini dengan nada tertinggi pada f#2. Namun yang menarik adalah imitasi nasal voice dari vokalis perempuan Portugis sebagai tuntutan dalam menyanyikan sebuah Moresco menghasilkan warna yang berbeda dengan para sindhen Jawa, karena lebih merupakan sebuah jeritan falsetto dibandingkan dengan vokalis laki-laki yang bebas membuka mulut.
Folgadinho menjadi julukan bagi seseorang yang suka bermalas-malasan. Khususnya bagi orang Moor di Portugal yang gemar bekerja, istilah Folgadinho menjadi sebuah sindiran. Syair lagu Folgadinho bersifat parodial dan responsorial yang selalu diakhiri dengan refrain. Sebagai fado pengiring tarian refrain dinyanyikan tutti chorus sambil bertepuk tangan, sebagai pengganti waditra adufe atau rebana Arab, yang asalnya adalah bunyi kerincing gelang kaki si penari Moor di istana Portugal pada abad ke-12, seperti halnya penari Katakali dari India, atau penari Ngremo gaya Jawa Timuran.

Jangan mati sebelum ke Banda Neira

Yah pagi itu warna laut yang menyatu dengan langit biru di sisi - sisi tak terjangkau meneduhkan mata. Terlalu lama hidup di belantara beton Jakarta membuat saya kaku, kikuk entah harus bagaimana mengungkapkan kegembiraan serta kekaguman yang sudah sangat ku kenali. Tersentak entah dari lamunan yang mana, “aku pernah hidup disini”.
“Kapal Putih”, sebutan untuk kapal PELNI dengan nama KM. CIREMAI melaju perlahan di atas permukaan air yang tenang di teluk Banda. Kontras dengan suasana pelabuhan yang sudah seperti pasar. Ramai. Hari itu, setelah delapan tahun memendam rindu, akhirnya semua tumpah begitu saja. Aku pulang ke “rumah”. Banda Neira.

“Pelabuhan Banda Neira”

Aku bergegas. Langkah - langkah panjangku segera menemui senyum hangat warga setempat. Tak asing memang. Aku lahir disini, meski dalam perjalanan bertumbuh dewasa kuhabiskan di belahan lain bumi indonesia, Merauke - Papua. Peluk, cium, air mata kerinduan lalu tumpah begitu saja. Entahlah. Waktu delapan tahun seperti begitu cepat terlewati. Ah, pikiranku bahkan masih mampu menangkap kaki - kaki kecil berlarian sepanjang aspal jalan - jalan di kota ini. Banda Neira, rinduku ternyata sudah tak lagi mampu ku bendung.

“Di ujung Runway Bandara Banda”
Kakiku menapak pasir Malole. Matahari terik namun tak sedikitpun menyengat. Pantai ini, meski tak sebagus Kute di Bali atau Anyer di Banten, tetap menjadi salah satu pantai paling nyaman, paling tenang untuk di kunjungi. Pasirnya tak seputih pasir pantai pada umumnya, tapi bagi kami, bagiku, yang bertumbuh dari sini, ada hal lain yang lebih penting dibanding warna pasir pantai. Kenangan. Itu tak terbeli, kawan.
Namun Banda tak hanya Malole. Kau tau buah pala yang menarik belanda datang dan menjajah negeri kita ini? Banda adalah rumahnya. Banda meupakan penghasil pala dengan kualitas terbaik di dunia. Tak heran, Belanda rela menukar sebuah pulau kecil di Banda Neira bernama Pulau Run dengan Manhattan pada Inggris. Ah, pala juga yang membuka jalan penjajahan di negri ini. Jika pada buku sejarah mencatat penjajahan terjadi selama 350 tahun, maka di Banda, hal serupa berlangsung lebih lama 150 tahun. Di Banda, bermula segala macam teori perjuangan bangsa ini. Di Banda, bermula apa yang kemudian menjadikan Indonesia.

“Pala Banda”

Banda pula menyimpan catatan panjang sejarah bangsa ini. Beberapa tokoh “Bapak Bangsa” pernah diasingkan disini. M. Hatta ; Dr. Cipto Mangunkusumo dan Syahrir pernah menghabiskan sepenggal masa hidup mereka dalam “pembuangan” di pulau kecil ini. Jika kemudian lahir  tokoh besar semisal Des Alwi Abubakar, itu tak lepas dari peran ketiga “bapak bangsa” yang “dibuang” Belanda ke Banda Neira.

Banda masih pula sederhana. Belum banyak berubah. Masih seramah ketika dulu kuhabiskan masa anak - anakku disini. Jalan - jalannya masih sama. Bangunan tua dengan arsitektur khas Eropa masih banyak dan terawat dengan baik. Istana Mini yang merupakan “kakak” dari istana merdeka di Jakarta masih berdiri kokoh menghadap pulau Banda Besar. Tak habis jika kuceritakan hingga tuntas. Keindahan “surga” ini, hanya akan kau temui jika kau berkunjung kesana. Pergilah. Temuilah apa yang menjadikan bangsa ini ada. Jika dalam lagu, Indonesia adalah dari Sabang sampai dengan Merauke, maka Banda adalah inti dari “apa yang kemudian menjadikan lagu itu ada”. Mungkin begitu.

Cukup. Apa yang kutulis adalah apa yang membekas di dalam kepala. Aku hanyalah anak kecil yang mencoba menghadirkan kembali masa anak - anak serta sejarah tempat dimana ia lahir. Aku hanya memperkenalkan. Sisanya, tugasmu menguliti lebih jauh.

Buat kalian yang mengaku turis, wisatawan, traveler atau apapun itu, jangan mati sebelum ke banda neira.

Minggu, 05 April 2015

Lalu dan Lalu

Bukan penghargaan tapi ini tentang sastraku,aku tak peduli dengan piala itu.
aku terlahir untuk membaca dan kewajibanku menulis menaruh sebuah makna kelak di cicipi cucu-cucuku,yah dari sekian banyak sudah aku lihat,kenapa segitunya.
Memang pengetahuan adalah guru yang hingga kini belum di temukan tunggal di samudera sana,jangan gelisah karena belum temukan jalan pulang,aku masih disini bersamamu awan,aku tinggal di langit dan sering berkunjung di biru lautan kadang aku merasa kesepian dengan musik alam,mungkin bukan sekarang jika tiba saatnya akankah ada yang menemani,maukah kau melihat senja seumur hidupmu bersamaku?
Mimpi-mimpi bersamamu adalah palsu,nyata jikala aku tertidur.
sopan bila rindu dan cinta tak ada petunjuk tentangmu,masih hujan di luar sana,ayo masuk dulu ku buatkan teh.
tisu itu yang jatuh dari tanganmu akan ku simpan di laci kecilku,oh iyah parfum yang pecah di kelas tindak pidana korupsi dan ekonomi,yang temanmu jatuhkan waktu dosen masuk itu juga ku simpan.
masih belum mengantuk,05.48 am.
Fajar baru di hari senin 6 April 2015,stay tune with andaikan ku punya sayap lagu waktu kecil yang bikin tegar waktu aku di kalahkan teman kelas yang selalu juara di pelajaran matematika kelas 2 sd.
oh iyah aku lupa roti buatan mama di tas,bentar yah aku ambil.
ini aku sebut bread green ala mama,ngga tau kenapa aku juga sampe bisa bikin tuh kue.
Mama,aku pulang....
kenalin,nih jesa.
teman baru aku ma.
Mama,ajarin aku sama je bikinin bread green yah?
Mama;iyah boleh.
di sore itu hujan mengguyur,jauh di sebrang waktu aku meluncur dengan sweater merah mellon.
tepatnya di depan kantor gubernur,mobil-mobil terparkir ambruk,mementingkan keperluan negara,lupakah pejabat di dalam negara itu bukan cuman kalian?
terbangun di shubuh sunyi alarm ke surga memanggil.
di jendela pipa langit yang biru,mataku sayup lagi terpesona fatamorgana dunia.
Tuhan aku butuh bantal sebentar dan vas bunga agar ku tenang di 1/2 malam.

Ruma Maida

Pamflet Sejarah Negeriku Yang Pudar

01
Ishak Pahing dalam perjalanannya di pesawat tertembak akibat berondongan peluru yang di muntahkan dari pesawat-pesawat tempur yang mengepung pesawat yang ia dan teman-temannya tumpangi dan akhirnya pun Ishak Pahing tertembak. Inilah pembuka film Ruma Maida yang digarap oleh Teddy Soeriaatmadja dan sebagai penulis naskahnya, Ayu Utami—seorang  novelis yang sempat menggegerkan jagat sastra Indonesia kontemporer melalui Saman
Ruma Maida adalah filem yang mencoba membaca kembali wacana nasionalisme dalam filem—tentu dalam konteks kehadirannya dihubungkan dengan hari Sumpah Pemuda. Sebelum filem ini beredar juga diramaikan oleh kehadiran Garuda di Dadaku dan Merah Putih.
Ruma Maida diproduksi oleh Lamp Pictures dan Karuna Pictures dirilis bertepatan dengan momentum 81 tahun Sumpah Pemuda—dengan menghadirkan berbagai kepingan peristiwa hingga sekarang. Melalui Ruma Maida narasi-narasi besar perjalanan bangsa ini dihadirkan ke penonton. Latar sejarah yang menggelora dan mengharu biru dikaitkan menjadi bangunan keindonesiaan, yang mengkristal menjadi satu kata, Merdeka. Kata merdeka menjadi lokus utama di filem ini meskipun ia berbicara dari generasi yang berbeda. Konteks keindonesiaan yang merdeka terhimpun dari kepingan-kepingan peristiwa yang terpadatkan pada momentum akbar bangsa ini. Sejarah yang di mulai dalam filem bermula dari zaman pergerakan nasional tepatnya peristiwa Sumpah Pemuda, pendudukan balatentara Dai Nippon, Perang revolusi kemerdekaan hingga Peristiwa Mei 1998. Dalam narasi-narasi besar itu Ruma Maida menempati ruang mikrokosmis yang menghubungkan kehidupan anak bangsa. Sekali lagi narasi-narasi besar keindonesiaan terpusat pada sebuah rumah dan rumah inilah yang menulis sejarah pelakunya, tentunya sejarah pelaku-pelaku yang terlibat secara sadar atau tidak telah mengusik diskursus keindonesiaan itu yang belum selesai.
Apa yang terjadi di tahun 1998 oleh pembuat filem ini disamakan dengan peristiwa yang terjadi di zaman pergerakan dan revolusi—dengan cara merelasikannya situasi zaman kolonial di mana kemerdekaan yang hakiki masih jauh dari harapan. Digambarkan Maida, seorang mahasiswa sejarah semester terakhir yang sedang menyiapkan skripsi dan juga melakukan aktifitas sosial dengan melakukan kegiatan pendidikan alternatif untuk anak-anak jalanan di Jakarta. Ia adalah korban kekuasaan; modal dan sistem negara yang tidak berpihak.
02
Ayu Utami selaku penulis skenario menyatakan bahwa filem ini bertujuan untuk meneguhkan kembali makna kebhinneka-an yang hampir saja tergerus oleh pemasungan dari pihak-pihak yang memaksakan etika moral diterapkan di masyarakat Indonesia. Menurut penulis, filem ini ingin mengingatkan bahwa sebagai anak bangsa kita jangan lupa dengan pluralitas bangsa Indonesia. Ayu menjelaskan bahwa dalam filem ini diperlihatkan sketsa pilu warga bangsa yang belum mendapatkan kemerdekaannya meskipun telah merdeka.
Teddy Soeriaatmadja  menghadirkan konsep stilistikanya seperti yang pernah ia buat sebelumnya di filem Ruang. Tentu dalam Ruma Maida ia ingin menghadirkan sejarah dalam imajinasi ruang sebagai pusat narasinya. Ruang, yang direpresentasikan dengan rumah, sebenarnya sangatlah jenial dalam pemilihan bahasa filem untuk membingkai sejarah keindonesian yang sangan panjang. Namun, sutradara sangat jelas terlihat kepayahan untuk meyakinkan penonton tentang sebuah narasi sejarah versinya Ayu, sang penulis. Dalam tulisan Ishak Pahing, Nanni Kudus dan Kolonel Mayurama adalah sosok khayali yang dihadirkan sebagai penyampai risalah keindonesiaan yang dalam bacaan teks tentu memberikan gambaran imajinatif yang memberikan ruang kepada pembaca untuk membangun karakternya sendiri-sendiri—ini adalah hakekatnya saat kita membaca sebuah karya berbasis teks. Itu pula yang dihadapi oleh Teddy dalam menggarap Ruma Maida. Daya imajinasi teks tidak mampu ia kembangkan dalam bahasa filem. Kita tentu mengenal karya seperti Les Misérables-nya Victor Hugo (1862) dihadirkan kembali oleh Bille August. August tanpa tedeng aling menghadirkan sosok Jean Veljean (Liam Neeson) yang sudah menjadi sosok klasik—seorang yang berkarakter keras—menjadi sosok yang tenang dalam filem. Tentu ini menuai banyak kritik, tapi secara kehadirannya dalam filem, August berhasil menjadikan sosok Jean Veljean versi sutradara sendiri.
03

Ruma Maida 
mencoba memberi prespektif sejarah versi sendiri seperti posisi bangsa Belanda, Tionghoa dan Peranakan lainnya dicap tidak nasionalis. Dalam filem ini penulis dan sutradara ingin menggeser postulasi ini yang kebangsaannya dipertanyakan. Dengan sangat mudah kita mengetahui premis film ini yaitu lokus kebhinnekaan adalah milik seluruh komponen bangsa termasuk para peranakan maupun bangsa lain yang memilih hidup untuk Indonesia. Hal ini juga tergambar pada peristiwa Mei 1998 dengan sangat jelas pembelaanRuma Maida terhadap minoritas terutama etnis Tionghoa yang dirugikan dalam peristiwa kelam sebelum kejatuhan rejim Soeharto ini.
Dari pengalaman menonton Ruma Maida, tergambar obsesi penulis yang ingin meluruskan sejarah dalam versinya sendiri yang tentunya tidaklah sesederhana itu. Negara dan bangsa ini berdiri dengan jutaan darah dan pusaran konflik yang tiada henti. Sejak peristiwa berdarah Ken Arok, Majapahit, Mataram, Zaman Kolonial hingga kemerdekaan tidak pernah luput dari tarik ulur kepentingan dengan mengorbankan darah anak-anak bangsa. Pada periode kemerdekaan kita mencatat beberapa persitiwa seperti; pemberontakan PKI 1948, disintegrasi yang terjadi di medio 1950-an (ingat peristiwa PRRI/Permesta, RMS, DI/TII), hingga peristiwa kelabu G 30 S PKI sampai dengan peristiwa mei 1998. Semua catatan perjalanan sejarah bangsa ini selalu kepayahan untuk menegakkan visi keindonesiaan. Begitu juga dengan bagaimana kepayahannya filem ini untuk meyakinkan penonton tentang keindonesiaan itu.
Kembali pada pelurusan sejarah dalam film, Ruma Maida dijadikan pusat gravitasi keindonesiaan dalam satu rumah—dimana sejarah bangsa bertemu meskipun kita tahu sejarah bangsa ini terdiri dari fragmen-fragmen yang satu sama lain tidak melulu saling terhubung. Kontak sejarah yang saling berhubungan hanyalah wacana menuju kemerdekaan itu sendiri, namun untuk kepingan peristiwa sejarah lainnya sangat sulit untuk menghubungkan sebuah peristiwa sejarah yang terangkum padat di sebuah rumah tua.
Bagaikan puzzleRuma Maida menggiring penontonnya untuk cermat menyusun kepingan-kepingan puzzle yang berserakan. Sebuah pilihan yang cukup pintar dalam bahasa filem. Namun, kepingan-kempingan itu terasa menjadi hambar karena kelemahan diberbagai lini seperti pemilihan pemain dan karakter dalam film ini. Para tokoh tidak ubahnya seperti bermain dalam sinetron dengan mengerangkan urat di leher untuk memperlihatkan kemarahan. Benda-benda di dalam rumah hanya diam sebagai benda, ia tidak hadir sebagai metafora dalam filem dalam membangun imajinasi penononton. Susunan puzzle itu pada akhirnya menjadi hancur lebur sebagai sebuah bangunan filem yang seharusnya menarik lalu menjadi opera sabun (sinetron) karena konflik yang dibangun tokon Maida tuntas hanya dengan kemurahan hati seorang pengusaha congkak yang sadar akan keindonesiaan dan pentingnya arti sejarah. Inilah klise yang selalu dibangun dalam cerita-cerita murahan, yang menurut saya tidak sekelas dengan Ayu Utami dengan reputasi penulis handal generasi baru yang mendapatkan berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional.
04
Maida Lilian Manurung (Atiqah Hasiholan) di persepsikan oleh pengarang filem ini sebagai pejuang pendidikan bagi kelas bawah, yakni para anak jalanan. Kita bisa mengira-ngira bahwa Ayu memilih cerita ini tentu terinspirasi dari Butet Manurung—seorang tokoh penting pejuang pendidikan alternatif bagi masyarakat marjinal (orang-orang Kubu/Rimba di Jambi dan anak-anak jalanan di Makassar). Namun, gambaran ketokohan dan pengabdian seorang perempuan muda dalam filem ini seperti hanya menjadi slogan-slogan yang ada dalam surat kabar. Sutradara tidak bisa menemukan bahasa filem yang lebih baik untuk menggambarkan tokoh Butet Manurung, yang pasti tidak akan berteriak-teriak dengan mudahnya saat sekolah alternatifnya digusur. Dalam filem yang tergambar hanya slogan-slogan penindasan yang diartikulasikan dalam bahasa oral dan tubuh Maida.
Di rumah tua itu tokoh Maida bertemu dengan Sakera Motaba (Yama Carlos)—seorang arsitek yang akan merenovasi total rumah ini dengan konsep desain minimalis modern futuristik seperti yang diminta kliennya, Dasaad Muchlisin (Frans Tumbuan). Tokoh Sakera, kalau kita relasikan dengan nama, tentu kita akan tahu dia adalah seorang yang berasal dari Madura. Ini juga yang dicoba digambarkan oleh Ruma Maida tentang konsep pluralisme dalam hubungan cinta. Sakera (yang tentu dalam stereotipe masyarakat Madura adalah beragama Islam) dijalinkan dalam hubungan personal dengan Maida yang keturuna Tionghoa-Batak dan beragama Katolik. Perlawanan stereotipe mencapai puncaknya saat sepasang kekasih ini mengucapkan janji di depan pastor. Sekali lagi, bagi saya ini adalah angan-angan yang bagus, namun tidak begitu cantik dalam bermain bahasa filem. Pertanyaan muncul, kenapa harus menikah di gereja bukan di KUA (Kantor Urusan Agama)? Mungkin sutradara memilih di gereja agar lebih terlihat agung dan estetik. Padahal dalam konteks keindonesiaan dan juga dalil-dalil agama, Sakera bisa saja mengucapkan ijab-kabul di depan seorang Kyai yang di dalam beberapa perspektif Islam, kawin campur pun bisa terjadi. Di sini Ayu dan Teddy terlalu sinis melihat pluralisme di Indonesia. Padahal bisa saja dengan tidak berhadapan secara langsung yang menjadi sangat slogan dan pamflet-pamflet kemarahan.
05
Film Ruma Maida juga menghadirkan tokoh anak-anak sebagai gambaran anak jalanan di Jakarta. Di sini juga ada catatan yang perlu kita lihat yaitu peran anak-anak pada film hanya menjadi tempelan. Pelajaran musik, toh hanya sebagai pintu masuk terhadap sejarah Ishak Pahing. Padahal, Teddy sebenarnya telah mulai memainkan tanda dengan menghadirkan biola di tengah anak-anak. Namun, sekali lagi sutradara gagal menjadikan tanda ini sebagai sesuatu yang sangat penting dalam filem. Ketika biola anak-anak itu hancur karena peristiwa tragedi 1998, Maida berusaha mencari gantinya. Ia menemukan gantinya dari bekas calon suami ibunya. Maida memberikan biola itu kepada anak jalanan itu saat ia menggali gorong-gorong di jalanan. Biola menjadi hambar, hilang tanpa makna bagi filem dan relasinya dengan sang anak. Sayang sekali.
Tokoh penting dalam film ini juga Ishak Pahing—seorang indo yang ayahnya bernama Hans Schmutzer dengan ibu sunda. Ayah Ishak ingin ia menjadi penerbang, namun ia lebih menyukai musik terutama biola. Digambarkan dalam filem, keinginan tersebut semakin mantap ketika Ishak Pahing bertemu Bung Karno dan melihat Wage Rudolf Supratman memainkan lagu kebangsaan. Saat itu ia berjumpa untuk pertama kalinya dengan Nanni Kudus yang kelak menjadi istrinya. Oleh Bung Karno anak Ishak dan Nanni diberi nama Fajar Putra.
RUMA-MAIDA-daLam1
Tokoh lain adalah Kolonel Maruyama—seorang officer Jepang yang menyamar sebagai fotografer sebelum balatentara Jepang masuk ke Indonesia. Sang kolonel jatuh hati kepada Nanni Kudus yang membuat gusar Ishak Pahing. Ada hal yang perlu dicatat di sini, konflik Ishak Pahing dan Kolonel Maruyama adalah konflik pribadi yang seharusnya bisa dikemas lebih baik. Tidak dengan cara hitam-putih. Tokoh jahat yang diperankan Maruyama sama persis dengan yang kita selalu kenal yaitu bengisnya penjajah. Padahal dalam konteks cinta, seharusnya bisa lebih halus dan pasti bisa ditemukan dalam bahasa filem. Karena konflik cinta tidak ada hubungannya dengan pilihan politik seorang Maruyama. Toh, dalam filem ini digambarkan bahwa akhirnya sang kolonel memilih tetap tinggal di Indonesia dan merawat anak dari Ishak Pahing setelah meninggalnya Nanni Kudus dalam kerusuhan paska kemerdekaan. Sutradara masih melihat kejahatan sebagai sesuatu yang jahat. Padahal dalam persoalan perasaan, tentu kejahatan bisa sangat berbeda. Cinta itu adalah sebuah ketulusan dan itulah yang dibuktikan oleh rangkaian cerita Ayu Utami dalam Ruma Maidasaat sang kolonel memutuskan mengasingkan diri.
Pembingkaian kejahatan dengan cara hitam-putih ini juga terjadi pada adegan kerusuhan 1998. Dalam Ruma Maida jelas posisi para perusuh digambarkan secara beringas dan tak kenal ampun. Penggambaran yang sama juga berlaku bagi orang pribumi yang di filem ini dipersepsikan sebagai biang keladi atas huru-hara 1998. Hal ini dipertegas dalam sebuah gambar toko yang bertuliskan; milik pribumi, Muslim. Ayu dan Teddy benar-benar membuat sebuah slogan yang menurut kami sangat gampang dan bersifat pamflet. Ada banyak perangkat peristiwa yang mengikuti tragedi berdarah itu. Bagi penulis, bukan berarti mengabaikan korban-korban warga keturunan pada peristiwa itu. Namun, slogan yang menjustifikasikan bahwa orang-orang pribumi adalah “biang” merupakan kesalahan fatal dalam filem ini. Penonton tidak lagi diajak untuk berpikir objektif terhadap peristiwa-peristiwa yang memojokan masyarakat keturunan itu. Bahwa ada sistem yang salah dalam membangun bangsa ini pada masa Orde Baru.
RUMA-MAIDA-daLam2
Hasil tamasya sejarahnya menghantarkan Maida dan Sakera ke Dasaad Mukhlisin dalam konflik penguasaan rumah tua yang digunakan Maida. Adegan ala sinetron terjadi saat Maida dan Sakera diusir oleh Dasaad Muchlisin karena meminta mengurungkan niatnya untuk meruntuhkan rumah itu. Diceritakan bahwa rumah tua itu adalah warisan sah Ishak Pahing yang disebutkan sebagai ayah biologis Dasaad Muchlisin. Tokoh pengusaha ini digambarkan sebagai orang yang gila pada sesuatu yang baru dan benci sejarah. Ia adalah potret masyarakat kontemporer yang ahistoris. Namun, bagaimana mungkin sebuah peristiwa yang begitu besar dan merubah perilaku seseorang dapat menjadi sangat “mellow” setelah ia datang ke rumah orang tuanya sendiri? Sekali lagi, terlalu mudah untuk filem yang dari awal berjibaku dengan soal-soal kebangsaan dalam bingkaian sejarah arus besar negara ini. Apalagi  diakhir cerita Dasaad Muchlisin sadar dan berubah pikiran. Filem ditutup dengan penghibahan rumah kepada Maida dengan disingkapnya tirai sekolah Ruma Maida oleh Pak Dasaad Muchlisin. Sama persis seperti filem-filem propaganda Orde Baru tentang kebaikan dan budi pekerti.
RUMA-MAIDA-daLam3
Sejarah dalam Ruma Maida menjadi hambar. Kehadiran tokoh-tokoh sekelas Soekarno, Hatta, Wage Rudolf Supratman dan lain-lain tidak banyak membantu untuk membuat filem ini penting untuk membaca sejarah dalam perspektif kebudayaan. Kerumitan sejarah ternyata hanya selesai dengan penghibahan rumah Dasaad Muchlisin kepada Maida dan anak-anak asuhnya. Filem Ruma Maida ternyata hanya diselesaikan oleh pertobatan Sang Pengusaha congkak saja.
RUMA-MAIDA-daLam4